Senin, 27 Januari 2014

Klasifikasi Tanaman Hortikultura



Tanaman Hortikultura
1. Pengertian
Hortikultura berasal dari Bahasa Latin yang terdiri dari dua patah kata yaitu hortus (kebun) dan culture (bercocok tanam). Hortikultura memiliki makna seluk beluk kegiatan atau seni bercocok tanam sayur-sayuran, buah – buahan atau tanaman hias.

Tanaman Hortikurtura memiliki beberapa fungsi yakni: sebagai Sumber bahan makanan, Hiasan/keindahan, dan juga Pekerjaan. Hortikultura terbagi atas 4 bagian yaitu: Sayur-sayuran, Buah-buahan, tanaman Hias, dan tanaman obat. Ilmu hortikultura berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan lainnya, seperti teknik budidaya tanaman, mekanisasi, tanah dan pemupukan, ilmu cuaca, dan sebagainya.

Pada umumnya budidaya hortikultura diusahakan lebih intensif dibandingkan dengan budidaya tanaman lainnya. Hasil yang diperoleh dari budidaya holtikultura ini per unit areanya juga biasanya lebih tinggi. Lebih lanjut dikatakan tanaman holtikultura memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia. Misalnya tanaman hias berfungsi untuk member keindahan (aestetika), buah – buahan sebagai makanan, dan lain-lain. Holtikultura berinteraksi dengan disiplin ilmu lainnya seperti kehutanan, agronomi, dan ilmu terapan lainnya.

1.1.2 Penggolongan Hortikultura
Hortikultura dikelompokkan dalam 4 kategori yaitu:
1. Tanaman Buah-buahan,
Yaitu : kelompok tanaman ini memiliki keanekaragaman morfologi, seperti ada yang berbentuk :pohon (misalnya rambutan, mangga, durian, jeruk, dan sebagainya), atau bentuk semak markisa).
2. Tanaman sayuran,
Yaitu : tanaman ini merupakan tanaman hortikultura yang utama. Sayuran juga dapat diklasifikasikan atas bagian apa dari sayuran tersebut yang dapat digunakan. Bagian tanaman tersebut dapat berasal dari daun, tangkai daun, umbi, batang, akar, bunga, buah ataupun biji.
Berbeda dengan tanaman buah - buahan, sayuran memiliki umur yang relatif singkat. Tanaman ini umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar, oleh karenanya proses penanganannya lebih spesifik dibandingkan dengan hortikultura lainnya.
3. Tanaman Hias,
Manfaat dari tanaman hias ini adalah meningkatkan aestetika lingkungan.
Budidaya tanaman ini dapat dilakukan pada ruang terbuka maupun didalam ruangan.
4. Lanskap arsitektur,
Lanskap menggunakan tanaman tertentu yang dipadukan dengan elemen elemen lainnya untuk menghasilkan pemandangan yang indah. Aspek utama dalam lanskap arsitektur ini adalah penutupan permukaan tanah yang umumnya diwakili dengan rumput. Lanskap arsitektur sedemikian pentingnya karena dapat memuaskan masyarakat yang melihatnya dan berpengaruh terhadap efek fisiologis manusia.

1.1.3 Ciri – ciri tanaman hortikultura
Ciri – ciri Hasil tanaman hortikultura mempunyai sifat khusus yaitu sebagai berikut :
- Produksinya musiman, beberapa diantaranya tidak tersedia sepanjang tahun, contohnya :
Durian, Langsat, Rambutan, Manggis dan lain sebagainya.
- Memerlukan voleme (ruangan) yang besar, menyebabkan ongkos angkut menjadi besar pula
dan harga pasar menjadi tinggi.
- Memiliki daerah penanaman (geografi) yang sangat spesifik atau menuntut Agroklimat
tertentu, contoh : Jeruk Tebas, Durian Balai Karangan, Langsat Punggur, Duku Palembang,
Jeruk Garut, Mangga Indramayu, Markisa Medan, Rambutan Parit Baru, Nenas Palembang
dan lain sebagainya.
- Memiliki nilai estetika, jadi harus memenuhi keinginan masyarakat umum. Keadaan ini sangat
sulit karena tergantung pada cuaca, serangan hama dan penyakit, namun dengan biaya
tambuhan kesulitan itu dapat diatasi.
- Mudah / cepat busuk, tetapi selalu dibutuhkan setiap hari dalam keadaan segar. Sejak panen
sampai pasar memerlukan penanganan secara cermat dan efisien karena akan mempengaruhi
kualitas dan harga pasar.


1.1.4 Perbanyakan tanaman hortikultura

Digolongkan atas dua cara yaitu
- Perbanyakan generatif adalah perbanyakan yang menggunakan biji
- Perbanyakan vegetative,
Perbanyakan vegetatif buatan Perbanyakan vegetatif buatan terjadi dengan bantuan manusia. Beberapa perbanyakan vegetatif buatan adalah :
Cangkok, Stek batang, Runduk,Setek daun,Tempel (okulasi), dan Sambung pucuk (enten).

a. Cangkok,
Jenis tumbuhan yang biasa dicangkok pohon buah – buahan misalnya mangga, jeruk, dan lainlain. Umumnya jenis tumbuhan berkayu

b. Setek batang,
Potongan batang tumbuhan yang hendak di setek harus mempunyai sebuah mata sebagai bakal tunas. Potongan batang ini umumnya merupakan batang yang sudah cukup tua.

c. Runduk,
jenis tumbuhan yang dapat dikembangbiakan dengan runduk sangat sedikit. Tumbuhan itu mempunyai batang yang panjang dan lentur. Tumbuhan yang dapat dikembangbiakan dengan cara merunduk misalnya melati , alemanda, apel, dan lain2

d. Setek daun,
umumnya diterapkan pada tanaman hias misalnya begunia. Daun yang disetek ini harus cukup tua, dan tanah yang digunakn sebagai media tumbuh harus gembur dan lembab. Perkembangbiakan dengan setek daun ini dilakukan dengan meletakkan daun yang sudah dipilih tadi diatas permukaan tanah. Beberapa hari kemudian tumbuh tunas baru yang kemudian dapat dipindahkan ketempat lain.

e. Tempel (okulasi),
cara perbanyakkan ini dilakukan dengan menempelkan tunas dari satu tumbuhan ke batang tumbuhan lain. Setiap tumbuhan itu mempunyai sifat yang berbeda. Batang dan tunas yang diokulasi berasal dari dua tumbuhan. Batang yang ditempel merupakan tumbuhan yang mempunyai akar dan batang yang kuat.

f. Sambung pucuk (enten),
Sambung pucuk merupakn penyatuan pucuk dengan batang bawah. Pucuk dan batang bawah yang disambung itu berasal dua tumbuhan. Sambung pucuk dapat menghasilkan tanaman yang lebih baik mutunya. Bila dibandingkan dengan okulasi, ternyata sambung pucuk lebih cepat menghasilkan. Cara sambung pucuk dapat dilakukan terhadap tanaman hias, buah-buahan, dan perkebunan. Sambung pucuk dilakukan secara sederhana. Batang bawah diperoleh dari semaian biji. Pucuk diambil dari cabang tumbuhan yang mempunyai sifat- sifat baik seperti berbunga indah dan berbuah manis, atau lainnya. Pucuk kemudian disambung dengan batang bawah . Penyambungan dilakukan dengan menggunakan tali plastic.

- Teknik Budidaya Sayuran
Permintan akan sayuran terus meningkat, sejalan dengan peningkatan kebutuhan karena
pertambahan jumlah penduduk, juga disebabkan oleh peningkatan kesadaran akan manfaat mengkonsumsi sayuran. Keberhasilan industri sayuran tergantung pada beberapa factor yaitu: Ketersediaan benih unggul, kualitas produk,pemasakan produk, ketepatan waktu antara panen dan sampainya produk kepada konsumen, dan juga distributor atau pedagang perantara..

Beberapa hal perlu diperhatikan dalam melaksanakan budidaya sayuran yaitu :.
- Sayuran dikonsumsi dalam bentuk segar
- Sayuran memerlukan penanganan khusus
- Sayuran dengan nilai ekonomi tinggi
- Persaingan internasional

pemijahan ikan nila



PEMIJAHAN IKAN NILA
Published : 21.34.00 Author : Fera Angel
1. Pemilihan Induk (bibit) dan penyimpanan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQJgR6rMQEzRRgvHqEtYuvD4cMhS-NZJX6DBS4jDQ2k_mQKnwBf7gH8wegmP1CyuqGH6yeGzWVieDsCHPIEW-ENczCNW1ZAOFMDSvj_1QCAa1JHU4Yd7HbA_Cl2r7gGPjPACvbH2Bi0g_6/s320/ikan-nila-dewasa.jpg
1.1. Pemilihan induk (bibit) dan penyimpanan
Untuk memilih induk yang baik diperlukan pengalaman. Namum demikian sebagai pedoman praktis ciri ciri induk ikan nila merah yang baik antara lain :
- Umur antara 4 – 5 bulan dan bobot 100-150 g. Induk yang paling produktif bobotnya antara 500 – 600 g.
- Tanda nila jantan, warna badan lebih gelap dari betina, bila waktunya mijah, bagian tepi sirip berwarna merah cerah, sifatnya galak terutama terhadap jantan lainnya. Alat kelamin berupa tonjolan (papila) di belakang lubang anus. Pada tonjolan itu terdapat satu lubang untuk mengeluarkan sperma. Tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh. Bila tiba waktunya memijah, sperma yang berwarna putih dapat dikeluarkan dengan pengurutan perut ikan ke arah belakang. Sisik nila jantan lebih besar dari pada nila betina. Sisik di bawah dagu dan perut berwarna gelap. Sirip punggung dan ekor bergaris yang terputus putus.
- Tanda nila betina, alat kelaminnya berupa tonjolan di belakang anus. Namun pada tonjolan itu ada 2 lubang. Lubang yang depan untuk mengeluarkan telur, sedang lubang belakang untuk mengeluarkan air seni. Warna tubuh lebih cerah dibanding dengan jantan dan gerakannya lamban. Bila telah mengandung telur yang matang (saat hampir mijah), perutnnya tampak membesar. Namun bila perutnya di urut tidak ada cairan atau telur yang keluar. Sisik di bawah dagu dan perut berwarna putih/cerah. Sirip punggung dan ekor bergaris garis tidak terputus putus.

1.2. Penyimpanan induk.
- Kolam penyimpanan induk dibuat minimum ukuran 2 x 1 m, kedalaman 0,75 m untuk 2 ekor indukan, aliran air minimal 1 L/menit/m2
- Pakan diberikan 3 % x bobot total induk 3 kali sehari
- Induk jantan dan betina disimpan secara terpisah.
- Padat penebaran induk 1 ekor/m2.

2. Pematangan gonad dan telur induk.
- Pematangan gonad dan telur induk merupakan tahap pertama dalam pemijahan benih. Dalam bak penyimpanan aliran air paling sedikit 0,8 L/menit.
- Induk diberi pakan (pelet), 3 % x bobot total induk dan diberikan sebanyak 3 kali sehari, yang mengandung protein sebanyak 30-40 % dengan kandungan lemak tidak lebih dari 3 %.Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dari taoge dan daun daunan/sayuran yang di iris. Komposisi pakan dapat dilihat pada Tabel
- Kurang lebih 2 minggu kemudian, induk sudah mengalami matang gonad dan telur. Pada saat itu induk sudah dapat dipijahkan. Bobot induk antara 500 – 600 g/ ekor.

3. Pemijahan dan penetasan telur.
- Untuk kolam yang luasnya 100 m2 dapat ditebari induk nila sebanyak 90 ekor yang terdiri dari 30 ekor jantan dan 60 ekor betina.
- Bila telah mendapatkan pasangan, ikan jantan membuat cekungan di dasar kolam sebagai tempat pemijahan. Cekungan berbentuk bulat cekung dengan garis tengah kira 30-50 cm atau tergantung ukuran induk ikan.
- Setelah cekungan selesai dibuat, pasangan ikan nila melakukan pemijahan pada saat matahari terbenam, selama proses pemijahan induk betina berada di dalam cekungan. Kemudian induk jantan mendekati induk betina dan pada saat itu induk betina mengeluarkan telurnya. Telur telur itu tersimpan dalam cekungan dan dalam waktu yang bersamaan induk jantan menghamburkan spermanya di situ dan terjadilah pembuahan (fertiliasi) telur.
- Pelepasan telur terjadi beberapa kali dalam jarak waktu beberapa menit. Waktu yang diperlukan untuk pemijahan kurang lebih 10-15 menit. Sekali bertelur induk nila dapat mengeluarkan telur 300 -3000 butir, tergantung berat dan umur induk betina. Sebaiknya induk betina nila dipijahkan sampai umur 2 tahun.
- Telur yang telah dibuahi lalu di kulum oleh induk betina di dalam rongga mulut untuk dierami, selama mengerami telur induk betina tidak makan sehingga kelihatan kurus.
- Selesai pemijahan induk nila jantan pergi meninggalkan induk betina. Beberapa hari kemudian induk jantan itu dapat melakukan perkawinan dengan betina lainnya.
- Telur menetas setelah 2 hari, anak nila (burayak) yang baru menetas masih mengandung kantong kuning telur. Ukuran burayak yang baru menetas antara 0,9 – 1 mm. Burayak ini masih terus tinggal di dalam mulut induknya sampai 5-7 hari sampai kuning telurnya terserap habis. Setelah itu burayak mulai mencari makan di luar mulut induknya.
- Ketika burayak belajar makan, burayak memakan zooplankton yang ukuran kecil sekali. Apabila tidak terdapat zooplankton, pakannya dapat diganti dengan bekatul atau tepung kedelai.

4. Pendederan
- Pendederan benih adalah pemeliharaan benih ukuran lepas induk (ipukan), yaitu kebul yang berumur 5-7 hari sampai ukuran siap tebar untuk pembesaran yang berbobot 100 g/ekor. Pada pembenihan secara intensif pada umumnya ada 3 tahap pendederan
- Luas kolam pendederan dibuat antara 100 m2. Kolam pendederan disiapkan dengan cara dikeringkan terlebih dahulu selama kira kira 3 hari. Selanjutnya dilakukan pemupukan dengan kapur tembok sebanyak 10 g/m2 (untuk kolam baru 100-250 g/m2), kotoran ayam 25 g/m2, urea 2 g/m2, TSP 5 g/m2. Jika didalam kolam sering tumbuh lumut hijau (Spirogyra) sebaiknya jangan di pupuk urea. Setelah pupuh di dasar kolam rata, kolam dapat di aliri air sampai setinggi 0,5 m selama 5-7 hari. Sebelum air masuk ke kolam pendederan, air tersebut harus di saring dahulu dalam bak filter sehingga air menjadi bersih.

- Pendederan Tahap I
- Pendederan Tahap I ini menggunakan benih ukuran kebul (lepas induk/ipukan) dengan padat tebar 300 ekor/m2. Benih diberi pakan emulsi dengan formula tertentu. Jumlah pakan yang diberikan tergantung dari umur benih. Untuk ukuran lepas induk/ipukan diberi pakan sebanyak 1 g/1000 ekor yang diberikan 6-8 kali sehari, benih umur 5-10 hari sebanyak 2 g/1000 ekor dengan 6-8 kali sehari, dan untuk benih umur 10-15 hari sebanyak 3 g/1000 ekor dengan 6-8 kali sehari.
- Debit air yang masuk ke kolam pendederan harus diatur, yaitu sekitar 100 ml/detik. Kedalaman air 0,5 m. Benih dipelihara selama 12-15 hari, benih yang dipanen rata rata dapat mencapai 80-90 % dengan ukuran 3-5 cm/ekor.

- Pendederan II dan III
- Persiapan pendederan II dan III tidak jauh berbeda dengan pendederan I, hanya dalam 
   pedederan II ini padat tebar menjadi 100 ekor/m2. Benih diberi pakan tambahan berupa 
   tepung dengan formula tertentu pada minggu ke I dan remah pada minggu –minggu 
   selanjutnya sebanyak 5 x bobot benih tebar yang diberikan 6-8 kali sehari
- Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panen dapat mencapai 70-80% 
   dengan ukuran 8-12 cm/ekor.
- Apabila benih belum mencapai ukuran 100 g/ekor, maka dilanjutkan dengan pendederan 
  III, padat tebar 50 ekor/m2. Pada pendederan III ini benih diberi pakan remah dengan 
  formula tertentu sebanyak 4 x bobot tebar benih yang diberikan 5 kali sehari pada minggu 
  ke I. Untuk minggu selanjutnya benih diberi pakan pelet 2 mm dengan formula tertentu, 
  sebanyak 3 x bobot total benih, diberikan 4 kali sehari selama 3 minggu. Hasil panen dapat 
  mencapai 65-80 % dan rata rata ukuran benih 100-130 g/ekor.
- Pembesaran benih ikan berumur 81 hari (100 g) sampai dengan yang dibutuhkan untuk Konsumsi atau
   untuk Induk. Diberi pakan pelet 3 kali sehari.



PAKAN BENIH
Pakan Buatan
Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan buatan yang terdiri dari :
1. Emulsi
2. Tepung dan remah
3. Pelet

1.1 Emulsi
- Emulsi merupakan bentuk pakan tambahan untuk benih yang berumur 5-21 hari (lepas hapa). Bahan pakan benih ikan ini dibuat dari kuning telur (ayam atau bebek) dan tepung kedelai dengan perbandingan 1:1 ditambah vitamin 1 %.
- Cara membuat emulsi adalah dengan melarutkan sebutir kuning telur (itik atau ayam) kedalam 200 ml air matang ditambah 40 g tepung kedelai halus, 5 g tepung sagu (sejenisnya) sebagi perekat, 1 g vitamin.
- Campurkan bahan bahan tersebut diaduk sampai rata sambil dipanaskan sampai berbentuk emulsi.
- Pakan ini cukup untuk benih seberat 1 kg yang diberikan 6-8 kali sehari selama 5 hari. Pakan ini diberikan dengan cara disemprotkan merata diatas permukaan air.
- Pakan emulsi ini tidak boleh disimpan di udara terbuka lebi dari 10 jam. Sebaiknya disimpan dalam lemari es atau membuatnya hanya setiap akan memberi pakan.

2.1 Tepung dan remah
- Tepung merupakan pakan tambahan benih ikan yang berumur 21-40 hari. Jenis pakan ini terdiri dari tepung halus, yang dibuat dari pelet kering yang digiling halus.
- Untuk benih yang berumur 41-80 hari, diberi pakan remah berupa pecahan pelet kering (pelet yang dipecah).

3.1 Pelet.
- Pelet adalah pakan tambahan yang dicetak berbentuk butiran dan diberikan untuk tahah pembesaran. Formulasi pelet bermacam macam tergantung dari bahan dasarnya. Berikut ini adalah contoh formulasi pelet :
- Tepung ikan —————- 50 %
- Tepung Kedelai ———— 30 %
- Tepung terigu ————– 13 %
- Kuning telur —————- 5 %
                  - Premix ———————– - 2 %